Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah Allah SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena Allah dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.
Termasuk ketika kuliah bagi para mahasiswa, kalau kuliah hanya terfokus pada hasil, bagaimana kalau meninggal sebelum akhir semester? bagai mana kalau meninggal sebelum wisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan ajal itu datang, kapan akhir kehidupan kita. Karenanya yang paling penting dari perkuliahan, tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika akhir semester selesai. Nandaku. Kalau selama kuliah, selama belajar, selama respon kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek, landasan kita adalah Allah sebagai dasar dari nawaitu, lalu kita meninggal sebelum diwisuda? kita meninggal sebelum akhir semester? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.
Saat melamar seseorang, kita harus siap menerima kenyataan bahwa yang dilamar itu belum tentu jodoh kita. Persoalan kita sudah datang ke calon mertua, sudah bicara baik-baik, sudah menentukan tanggal, tiba-tiba menjelang pernikahan ternyata ia mengundurkan diri atau akan menikah dengan yang lain. Sakit hati itu wajar dan manusiawi, tapi ingat bahwa kita tidak pernah rugi kalau niatnya sudah baik, caranya sudah benar, kalaupun tidak jadi nikah dengan dia. Siapa tahu Allah telah menyiapkan kandidat lain yang lebih cocok.
Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan Allah. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat Allah memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya nilai respon bagus, datangnya nilai akhir semester yang tinggi, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya nilai cummulaude, karena nilainya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.
Nah, Sahabat. Selalulah kita nikmati proses. Seperti saat seorang ibu membuat kue lebaran, ternyata kue lebaran yang hasilnya begitu enak itu telah melewati proses yang begitu panjang dan lama. Mulai dari mencari bahan-bahannya, memilah-milahnya, menyediakan peralatan yang pas, hingga memadukannya dengan takaran yang tepat, dan sampai menungguinya di open. Dan lihatlah ketika sudah jadi kue, baru dihidangkan beberapa menit saja, sudah habis. Apalagi biasanya tidak dimakan sendirian oleh yang membuatnya. Bayangkan kalau orang membuat kue tadi tidak menikmati proses membuatnya, dia akan rugi karena dapat capeknya saja, karena hasil proses membuat kuenya pun habis dengan seketika oleh orang lain. Artinya, ternyata yang kita nikmati itu bukan sekedar hasil, tapi proses.
Oleh sebab itu, nikmatilah proses kehidupan ini sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mengerjakan tugas, pusing-nya, begadang-nya, lelah-nya dan biaya yang dikeluarkan-nya sebagai ladang amal. Nikmatilah proses perkuliahan, respon dan mengerjakan tugas yang penuh dengan jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan hasil akhirnya, jangan pikirkan apakah saya akan lulus mata kuliah ini atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini, insya Allah tidak akan pernah rugi. Karena memang aktifitas yang bernilai ibadah, bukan hanya aktifitas ibadah kontekstual, tapi apa yang dengan ikhlas kita lakukan dan dengan landasan nawaitu kita karena Allah SWT. ***
Wallahu A'lam Bissawab
Manuruki by @muhammadimran --- Okt '14


Posting Komentar